Pernahkah Anda menerima pesan yang menggelikan ini: tolong hafalkan seratus nomor handphone dalam waktu satu jam. Kemungkinan besar Anda mengabaikan pesan tersebut. Sebab, Anda pikir ini sesuatu yang musykil dilakukan.

Berbeda jika pesan itu disampaikan kepada Yip Swee Choi, seorang warga Malaysia. Dia akan merasa senang melakukan hal musykil tadi. Choi -- yang tercatat pada Guinness Book of Record -- bisa merekam sebanyak 1.840 digit angka dalam waktu satu jam. Kemudian dia mampu melafalkannya kembali. Dan, jawaban dari Choi seratus persen benar.

Bisakah Anda melakukannya? Jawabannya:bisa! Caranya? Melalui latihan yang intensif untuk mengembangkan kerja otak kanan. Dengan begitu, tiak cuma Choi saja yang bakal mampu mengingat sehebat itu. ''Semua orang pun bisa melakukan hal yang sama,'' tegas Sutisnawan, Direktur Max Recall, sebuah lembaga Pusat Pengembangan Potensi Otak.

Sutisnawan mengatakan selama ini kebanyakan orang baru mengoptimalkan fungsi otak kiri. ''Masih banyak potensi tidur dari otak kanan yang belum dikembangkan,'' tandasnya. Padahal dengan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, maka angka IQ (intellegent quetiont) bakal melonjak. Termasuk, meningkatnya kemampuan otak untuk mengingat.

Ini bukan sekadar omong kosong atau baru semacam teori saja. Dalam ajang raih gelar Grand Master of Memory pertama di Indonesia, kemampuan itu dipertontonkan. Acara itu senditi digelar Kamis (26/9) lalu di Jakarta. Dari kompetisi ini terlahir beberapa super-memory-man.

Yudi Lesmana, misalnya. Pemuda berusia 14 tahun ini mampu mengingat kombinasi 11 set kartu remi (satu set terdiri dari 52 kartu) dalam waktu satu jam. Artinya, ia bisa menghafal urutan sebelas set kartu dan menyusunnya kembali dengan urutan yang tepat. Untuk ini ia memecahkan rekor dunia atas nama Christian Stenger (Jerman) dengan tujuh set kartu.

Selain itu, jelas Sutisnawan, Yudi juga bisa merekam sebanyak 40 nama lengkap orang dalam dua menit. ''Artinya, ia bisa menyebutkan satu persatu nama-nama yang dihafalkannya tadi secara runut dari nomor satu hingga 40. Atau dengan urutan terbalik,'' papar Sutisnawan. Bahkan, ia bisa menjawab tepat ketika urutannya diacak (random).

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sutisnawan mengatakan saat Yudi menghafal, ia menyimpan nama-nama yang diingatnya pada satu ''lokasi''. ''Ia membayangkan suatu cerita atau hal tertentu sehingga angka, nama, atau kata yang sedang dihafal terserap dalam ingatan secara fantastis,'' urainya.
Contohnya ketika disuruh menghafal kata glory (kemenangan). Untuk itu, siapapun bisa mempermudahnya dengan mengingat kata yang berbunyi serupa, yakni goal. Saat mengingat goal yang dibayangkan adalah kesebelasan sepakbola favoritnya menang. Maka saat menghafal kata glory, yang langsung terbayang adalah pertandingan sepak bola. ''Melalui imajinasi ini, hafalan jauh lebih cepat terserap.''

Dengan cara ini, kata Sutisnawan, sedikitnya Yudi bisa menghafal 150 kata baru (vocabulary) dalam bahasa Inggris setiap harinya. Bandingkan dengan orang awam yang paling-paling cuma lima atau enam kata saja, tambahnya.

Menurutnya, siapa pun bisa memiliki kemampuan tersebut. ''Hal ini akan tercipta jika kita terus melatih fungsi otak kanan,'' ujarnya. Otak kanan, kata dia, berhubungan dengan perasaan, suara, musik, atau imajinasi. Salah satu ciri otak kanan adalah kesukaannya pada gambar-gambar (image). Dengan mengoptimalkan hal itu kita bisa memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa.

Mengapa kemampuan mengingat kita masih biasa-biasa saja? Sebab, kata Sutisnawan, selama ini kita baru mengoptimalkan fungsi otak kiri. Otak kiri beruhubungan dengan fungsi hitungan, urutan, atau logika. Dengan mensinergikan fungsi keduanya maka hasilnya akan menakjubkan. Berkaitan dengan fungsi mengingat, otak kanan berperan dalam membuat image.

Contohnya, seorang ibu yang akan berbelanja beragam jenis barang di pasar. ''Dengan membayangkan rokok berada di atas kepala, buah-buahan di tangan kanan, atau ember menggelantung di kuping, dijamin ia tidak akan lupa barang-barang apa saja yang harus di belinya,'' ujarnya.

Otak manusia, menurut Sutisnawan, layaknya badan. Dengan suatu metode tertentu, latihan terus menerus, dan seorang instruktur fitness, ia bisa dibuat besar dan ''berotot''. ''Layaknya body building, kita bisa membuat otak kita ''berotot'' melalui brain building,'' tandasnya.

Sumber : [Republika]