A U R A
Dari: Meryana Lim, Kuala Lumpur
Namo Buddhaya,
Bhante, saya ingin menanyakan apakah benar kata orang di setiap dahi manusia itu ada cahaya?
Oleh karena itu, poni rambut tidak boleh menutupi dahi. Kalau tertutup, maka akan banyak makhluk halus yang mendekat.
Saya pernah membaca jawaban Bhante tentang menangani orang yang terkena guna2, yaitu dengan menyuruh orang tersebut berbuat baik. Bagaimana kalau orang tersebut di guna-guna sampai tidak sadar dan terus bertingkah yang aneh-aneh (sesuai dengan keinginan orang yang mengirim guna-guna tersebut)?
Apakah cukup dengan membaca paritta atau harus ke orang pintar?
Terima kasih atas jawabannya.
Jawaban:
Dalam tradisi yang berkembang di sebagian masyarakat, bukan dalam Agama Buddha, memang dikatakan bahwa manusia mengeluarkan cahaya di sekujur tubuhnya, bukan hanya dahinya saja. Cahaya ini sering disebut sebagai aura.
Cahaya ini sangat kuat memancar dari diri seseorang sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh kain penutup badan maupun rambut yang berpotongan poni. Cahaya ini akan tetap terpancar keluar walaupun orang itu mengenakan baju yang sangat tebal sekalipun.
Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada hubungan sama sekali antara potongan rambut seseorang yang berbentuk poni dengan kedekatannya pada mahluk halus. Mahluk halus mendekat pada seseorang mungkin disebabkan karena adanya ikatan karma di antara mereka. Ikatan karma ini dapat berbentuk ikatan persaudaraan maupun persahabatan ketika mahluk itu masih sama-sama hidup sebagai manusia. Mungkin juga, mahluk itu mendekati seseorang bukan karena potongan rambutnya yang poni melainkan karena ia ingin meminta pertolongan agar orang itu membebaskannya dari penderitaan di alam kehidupannya yang sekarang.
Dengan demikian, silahkan seseorang menggunakan berbagai bentuk poni atau lainnya tanpa harus dibayangi dengan kemungkinan ada mahluk halus yang mendekat kepadanya.
Sedangkan untuk membantu orang yang tidak sadar akibat terkena guna-guna, biasanya umat Buddha membacakan Karaniyametta Sutta atau kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih selama beberapa kali berturut-turut. Bahkan, kadang pembacaan paritta ini juga dapat dilakukan setiap hari selama diperlukan.
Selain itu, biasanya umat Buddha juga melakukan kebajikan atas nama si sakit.
Kebajikan ini dapat dilakukan oleh keluarga si sakit pula. Keluarga hendaknya memperbanyak tindakan kebaikan dengan ucapan, perbuatan serta pikiran. Setelah melakukan berbagai kebajikan, keluarga si sakit hendaknya mengucapkan tekad:
"Semoga dengan kebajikan yang telah dilakukan sampai saat ini akan memberikan kebahagiaan kepada kami semua dalam bentuk kesembuhan si A dari berbagai gangguan yang dideritanya. Semoga si A bahagia. Semoga semua mahluk berbahagia."
Diharapkan dengan banyak melakukan kebajikan seperti ini, si A atau si sakit tersebut dapat memperoleh kesembuhan seperti yang diharapkan.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
Sumber : Samaggi-Phala


0 Responses to A U R A
Something to say?